Rabu, 14 November 2018

#KAI Jauh Terasa Dekat

Kecintaanku pada si-dia berawal pada tahun 2014, dan aku cinta mati padanya sejak saat itu. Bagaimana tidak. Saat rindu membuncah, ialah yang setia membantu mengantarku melepas rindu. Saat sebuah masalah datang tiba-tiba, dan aku dibutuhkan di dua tempat dengan selisih waktu yang sangat tipis. Ia penyelamatku tanpa menuntut banyak.

Yup. Inilah cerita nyataku tentang si-dia, si-kereta api. Tahun 2014, aku diharuskan terpisah dengan keluargaku. Istri dengan 3 buah hatiku. Sebuah amanat disematkan dipundakku, aku terpilih menjadi kepala desa. Sedang Istri dan anak-anakku menolak untuk ikut ke desa. Pertimbangan mata pencaharian pokok.  Juga sekolah anak-anakku menyebabkan istriku dengan berat hati rela melakukan hubungan jarak jauh untuk sementara waktu.

Aku adalah putra pekalongan kota batik, tepatnya desa kedungjaran kecamatan Sragi kabupaten pekalongan jawa tengah. Di sana juga sekarang saat tulisan ini dibuat aku menjadi seorang kepala desa. Latar belakangku seorang pedagang nasi kecil-kecilan di gang sempit di daerah Jembatan Lima Tambora Jakarta Barat. Sudah berpuluh tahun aku mengadu nasib di sana, hingga anak-anakkupun tinggal dan sekolah di sana pula.

Maka bisa dibayangkan, jakarta - pekalongan sejauh 400 KM harus aku tempuh bila ada keperluan. Baik keperluan pribadi rutin, kangen keluarga tentunya maupun urusan lain yang harus aku selesaikan di jakarta. Aku harus melakukan perjalanan darat dengan roda empat. Paling cepat 7 - 10 jam bila berangkat pada saat tepat. Bila kurang beruntung, terjebak di toll cikampek bisa lebih dari itu.

Biasanya aku ke jakarta 2 minggu sekali secara rutin, itupun kalau di desa tak ada acara. Namun terkadang baru seminggu, rindu keluarga sudah di ubun-ubun. Jam berapapun pada akhir pekan aku ke jakarta. Itupun hanya 1 hari di jakarta. Sabtu berangkat dari pekalongan, dan senin pagi harus ada di kantor desa untuk menjalankan tugas dan kewajiban.

Bisa dibayangkan, keinginan untuk melepas kangen dengan anak-anak akhirnya buyar. Sesampai di jakarta setelah mengendarai kendaraan 7 - 8 jam yang tersisa rasa penat dan ngantuk. Hingga sesampai di jakarta yang sering justru tersita untuk istirahat. Selepas istirahat hanya ada waktu 3 - 4 jam pada sore harinya bersama keluarga. Karena aku harus segera pulang kembali ke pekalongan, senin pagi harus sudah di kantor desa.


Kondisi ini berakhir, ketika pertengahan 2014 ada tugas kerja ke kementrian desa dari pemerintah kabupaten. Dinas memutuskan naik kereta api. Ini kali pertama aku naik kereta api, setelah memiliki kendaraan pribadi memang tak pernah naik kereta. Kalaupun tak bawa kendaraan sendiri, ada travel di desa yang bisa sampai depan pintu jadi langganan.

Pengalaman hari itu sungguh sangat luar biasa, jujur aku kaget alang kepalang. Sedari pintu masuk stasiun, gambaran suram stasiun yang dulu ada sirna tak berbekas. Calo liar dan pedagang asongan tak ada satupun. Rapi, bersih dan tertib. Wajah stasiunpun kini lebih greng cerah.

Semakin terkesima saat memasuki kereta yang kami tumpangi. Kereta yang kami naiki adalah kereta Tawang Jaya, kelas ekonomi. Bukan mau irit namun atas kesepakatan bersama agar tak ada yang tertinggal kereta untuk beberapa rekan yang tinggal agak jauh.

Kereta ekonomi yang sekarang jauh dari yang dulu ada, pengap, kumuh, sumpek. Yang sekarang wangi, dan luar biasa ber-AC. Walau memang tempat duduknya masih seperti kereta api yang dulu, namun kenyamannya sangat-sangat lebih dari cukup. 

Semua duduk sesuai nomor, tak ada saling berebut kursi. Aku ingat dulu, ada tukang becak langganan yang berbadan kekar yang jadi langganan ayahku. Setiap kami naik kereta selalu menggunakan jasanya. Selain naik becaknya, abang becak ini pula yang jadi pencari kursi, merangsek dan menguasai kursi sesuai jumlah keluarga kami. Tak jarang perkelahian sering terjadi. 

Satu waktu juga pernah karena kursi memang sudah penuh, aku harus ditipkan di kereta restorasi dengan membayar biaya tambahan. Sekarang semua serba nyaman, tak ada ancang-ancang seperti pelari yang akan memulai lomba saat kereta memasuki stasiun. Lorong kereta bersih, tak ada lagi orang duduk dilantai bahkan tiduran beralas koran karena tak mendapat tempat duduk. Juga, tak ada pedagang lalu lalang, walau ini akhir-akhir ini aku rindukan juga. 

Luar biasanya lagi, pengalaman sebal ketika harus berhenti di tengah sawah, atau di sebuah stasiun karena ada kereta dengan tiket yang lebih mahal kini tak ada lagi.

Dulu, ada perasaan terhina saat aku duduk berhimpit-himpitan di pintu, karena pintu adalah tempat ternyaman dengan aliran udara segar setiap saat. Kereta harus berhenti di sebuah stasiun hingga 30-an menit, lalu pelan tanpa berhenti meluncur sebuah kereta bertiket lebih mahal. Tatapan mereka di jendela kereta seakan akan penuh ejekan kepada kami yang ada di kereta ekonomi.

Situasi itu tak ada sama sekali. Tak ada kereta yang harus berhenti di tengah persawahan karena ada kereta eksekutif yang harus didahulukan. Terasa dimanusiawikan sekarang ini, tak ada simiskin dan sikaya.



Dan yang menjadi keheranan berikutnya, hanya dalam waktu kurang lebih 5 jam kami sudah sampai di Pasar Senin. Beda jauh dengan dulu yang harus memakan waktu hingga 10 - 14 jam.

Sejak saat itu, kumpul keluarga terasa sangat-sangat lebih nyaman. Kini bila tak ada acara di desa, setiap seminggu sekali pada Jumat sore selepas jam kantor atau sabtu paginya aku kendarai kendaraan roda empatku ke stasiun, parkir nyaman, murah dan aman. Tiket sudah aku pesan di KAI Acces, atau kadang aku beli di BUMDes di desaku yang juga melayani penjualan tiket. Setelah cetak tiket secara mandiri tunggu sebentar lalu kereta datang.

Kwalitas kumpul keluarga meningkat maksimal, tak ada penat sedikitpun. Pulang ke pekalongan selepas kumpul keluargapun tak menjadi momok. Aku ambil jadwal terakhir kereta api di Stasiun Pasar Senen pada jam 23.00 WIBB kalau pulang. Aku berangkat saat anak terkecilku sudah terlelap. Tak ada lagi saat-saat si kecil merengek ikut pulang dan bertahan di mobil sebelum mesin kunyalakan seperti dulu lagi. Sesampai pekalongan waktu subuh dalam keadaan segar, tugas di hari seninpun lancar tanpa halangan.

Hingga ada cerita lucu, yang kadang malu aku ceritakan. Jadwal di desa sangat begitu padat, tapi rinduku pada kekasih tersayang sudah tak bisa dibendung. Sedari pagi gelisah. Padahal jam 14.00 WIBB esok harinya di desa ada acara yang tak bisa aku tinggalkan. Tanpa berfikir panjang jam empat sore aku ke stasiun, Argo Muria aku naiki dan jam sepuluh malam aku sudah di Gambir jakarta. Hi..hi..hi... anak anak sudah tidur.

Pagi harinya Tawang Jaya Premium dari pasar senen jadi andalanku. Koordinasi aku lakukan di perjalanan. Edit powerpoint untuk makalah yang akan aku sampaikan sorenya bisa kulakukan dengan mudah. Walau sayang wiffinya belum ada.

Hmmmmm karenamu Kereta api Indonesia, Jauh terasa Dekat. 

Sabtu, 29 Agustus 2015

Revolusi Mental 1

Hmmmm..............,
Entah harus mulai dari mana, gamang-ragu. Karena jujur terlalu lama Rumah ini aku tinggalkan.
Namun harus kuluapkan, agar beban otak ini tak semakin berat-penuh hingga pecah terburai isinya.

Revolusi Mental,
Entahlah karena Jokowi yang orang ndeso yang mendengungkannya, dan sayapun wong ndeso.
Atau karena ia dari sebuah Partai, yang dulu ketika kelas 2 SMA-pun saya harus berurusan dengan ruwet dan kerasnya Birokrasi karena menjadi pengurus partai tersebut.
Atau mungkin karena secara tak sadar karena aku bagian Birokrasi kini, hingga ketika seorang Presiden mencetuskan sebuah Ide gagasan maka akupun mendukungnya.

Lepas dari itu semua, jalan hidup aku di Desa ini berawal dari keinginan merubah sebuah keadaan yang jauh dari ideal menjadi paling tidak berkeadilan bagi semua yang mendiaminya. Dalam arti Pemerintah Desa yang bisa melayani dan menempatkan hak serta kewajiban warganya sesuai porsi yang pas.

Itupun tak lepas dari kesalahan masa lalu, yang bertujuan demi perubahan dengan mendorong seseorang justru berakibat lebih buruk bagi desaku. Lebih tepatnya, aku turun ke desa untuk membayar kesalahannku ketika mendorong seseorang memimpin desa ini.

Dengan segala Idealisme yang membumbung tinggi di hati, lalu izin dari istri yang semula agak susah kudapat kutapakkan kakiku untuk sebuah kata. Pengabdian.

Namun pada awal langkahku, langsung menghadang satu kondisi yang membuat diri tercengang. Sebaik-baiknya Calon Kepala Desa adalah yang bisa membagi uang pada pemilih. Artinya Akhlaq, Kemampuan dan Intregritas adalah nomor sekian. Hal pokok adalah Uang.

Di awal walaupun aku menang sesungguhnya aku kalah 1 - 0.

Jumat, 10 Mei 2013

Kangen


3 tahun........

Yup, 3 tahun sudah aku pergi.

Pergi meninggalkan sebuah rumah jiwa.
Rumah dimana dulu segala keluh kesah dapat begitu mudah mengalir,
Rumah dimana dulu segala celoteh diri dapat dengan ringan terucap.

hmmmmmmmmm, 3 tahun.
Begitu banyak cerita terlewat begitu saja.
Tanpa ada satu hurufpun kutoreh di dinding rumah ini.
Tiga tahun yang berlalu hanya dengan senda gurau di rumah lain
tanpa atap, tanpa dinding... tanpa lantai.

hahhhhhh....... kangen rasanya.
Saat hati ini lapang...lepas,
setelah beban hati terungkap habis
lewat coretan batin di rumah ini.

Mungkin sudah saatnya aku kembali,
menata rumah yg tiga tahun ini tak terhuni.

Jumat, 03 Desember 2010

TOLAK PAJAK WARTEG


Setelah tiarap untuk sekian lama.

Bukan karena menghindari abu merapi.

Bahkan bukan pula menyiapkan diri ikut Referendum Yogya.

Tapi semata-mata ingin mengabdikan diri secara penuh, kepada keluarga tercinta.

( Mau bilang ngopeni/Ngemong bayi malu )



Yak…..

Hampir lima bulan ini boro-boro ngeblog, blogwalking atau Update Blog.

Kadang baru megang Keyboard si-Dede udah ,”Owwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….!”.

Sering pula baru nglirik Mouse yang kerlap-kerlip menggoda Teriakan Kencang menggema,” HOEEEEEE !!!”.

( Masa sih bayi 5 bulan udah bisa ngomong gitu ? )

He..he..he..he…. yang ini bukan suara si-dede, tapi suara Emak-nya Nyuruh ganti Pampers si-dede.



Maka Otomatis selama lima bulan ini aku Vakum di dunia Bloging. Entah berapa ribu surat dari fans mengalir tiada henti kayak air Pam. ( Yang ini bohong pasti. Pam kan sering mampet ! )

Dan baru kemarin kesadaran akan Blog yang telah lama kutinggalkan muncul.

Pasti karena berita SBY Sultan ?........ bukan !.

Tentang Sumiati ?..............................itu juga bukan !.

Atau Wikileaks ya ?............................itu juga bukan !.

Lalu apa Dong ???



Sabar….., semua itu karena istriku.

Loh emang Istrinya diriku menjadi berita ya ?

Emang Istrinya diriku Artis ya ? ………………… Bukan, walau secara Jujur wajahnya sih kayak artis.



Ya semua itu karena istriku sepulang dari pasar bilang bahwa Warteg mau dikenai Pajak.

Busyet !!! Udah Gila apa nih Pemerintahnya.

Ditengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini Pemerintah masih dengan Nekatnya mengeluarkan Kebijakan yang mencekik Rakyat.

Belum terlupa di Ingatan kita betapa Gempuran Tekstil dari Luar menggelontor tak terkendali hingga mengakibatkan Kolapsnya dunia perkonfeksian, korbannya rakyat kecil.

Lalu Kebijakan Subsidi BBM dengan segala Polesan Lipstiknya yang ternyata berujung melonjaknya harga bahan pokok, korbanya rakyat kecil.

Dan terakhir isu naiknya tariff listrik yang kembali memaksa harga yang sudah naik kembali naik lagi, korbanya rakyat kecil.

Lah sekarang Warteg dan sejenisnya mau dipungut Pajak, korbanya rakyat kecil.



Lalu kemana itu wakil rakyat ?

Masa kebijakan yang tak pro rakyat koq bisa lolos.

Apa bener kata Mbah Bejo kemarin dulu,” Kursi nek empuk biso gawe moto merem”.

( Kursi Empuk /Jabatan bisa membuat gelap mata/hati ).



Kalau begitu mulai besok Seluruh Pejabat, baik eksekutif , Legislatif dan Yudikatif saya serukan jangan pakai Kursi.

Terus pakai apa ? LESEHAN !!!

Walah malah anteng Turune…………,( Lelap Tidurnya ).

Maka tamatlah Indonesia.

Dan Jayus-jayus kecil tertawa ria.

…..OBYEKANNNN !!!!...... OBYEKANNNNNNNN !!!!!!!

Kamis, 22 Juli 2010

RATAPAN ANAK TIRI NEGERI

Dunia anak,
Ceria.
Penuh tawa.
Betulkah ?, atau ini mimpi.

Bukankah itu juga anak ?,
yang tiap pagi menengadahkan tangan di tiap perempatan penuh asap.
Bukankah ini juga anak ?,
yang masuk televisi bukan karena prestasi besar, tapi perutnya.
Bukankah dia juga anak ?,
yang berkotak kecil menjanjikan syurga dengan imbalan recehnya.
Bukankah mereka juga anak ?,
yang bersimbah peluh menyunggi karung ditengah dingin udara malam Pasar Kramatjati.
Bukankah ia juga anak ?,
yang meregang nyawa dirojok nafsu sang pemerkosa.

Dunia anak...
Penuh Isak.
Rintih lara, ini nyata.

Salah siapa ?
Salah Anjing di Dewan sana,
atau Babi yang bersarang di gedung Pemerintahan,
atau mungkin Tikus gendut di lorong-lorong kebijakan.

Atau bahkan kita....
yang merasa sudah berbuat,
Ternyata Belum.

Selasa, 01 Juni 2010

Hmmmmm........ URINE/DARAH


Judulnya aneh, itu kencing darah. Atau darah dikencingin.
Dua-duanya salah, apalagi kalau berpikiran ini drakula lagi kencing....

Ini tentang keluh kesah seseorang,
Seseorang yang dengan kesadaran teramat-amat tinggi akan kebersihan jakarta,
hingga ketika betapa sibuk kerjaannya, ia masih tetap menyempatkan membersihkan got-got disekitar ia tinggal.

Bukan hanya di depan tempat ia tinggal tapi dari ujung-keujung.
hampir tiap hari, di subuh gelap ketika yang lain masih terlelap.

Yang aneh, tiap orang lewat memanggilnya," BOS ! "
Lah bos kok bersihin got.
Tapi memang, ia seorang usahawan dengan puluhan Kios.
Malah ada beberapa Truk Expedisi segala macam. Tapi ia tetap bersahaja dan peduli dengan lingkungannya.

Tempat ia tinggal ada dilingkungan KUMUH Jakarta barat.
Dimana mayoritas penduduknya adalah pendatang dari segala macam suku dan bangsa.
Ada jawa, sunda, dayak, cina bahkan india. Semua campur aduk.

Tapi kebanyakan adalah cina dengan usaha konfeksinya,
mereka menempati deretan paling terdepan di gang,
dan dibelakangnya baru tempat tinggal para pendatang jawa-sunda berjubelan.

Lah kembali kesi-BOS, kenapa koq tinggal di daerah KUMUH tersebut.
"he..he..he..., ya karena disinilah saya bisa hidup, cari nafkah untuk anak istri".
Ohhhh, ternyata banyak Kiosnya melayani para buruh Konfeksi di rumah-rumah cina tersebut.

Ketika ditanya," Kerja bakti koq sendirian, subuh-subuh lagi ".
Jawabnya enteng," Sempetnya gini hari".
Lalu coba kukejar," Kalau siangan terus hari minggu kan warga lain bisa turun semua".
" Kata siapa ?!".

Sepuluh tahun ceritanya ia tinggal di lingkungan itu, hanya satu dua yang sadar akan kebersihan lingkungan. Yang lainnya merasa sudah cukup dengan membayar iuran RT/RW dan memberi Uang Rokok ketika ada kerja bakti. Padahal intinya bukan itu, sambungnya sambil menyeruput kopi kental kegemarannya, Kopi Luwak.

Lingkungan ini, jakarta ini butuh kebersamaan. Mimik wajahnya sangat serius ketika ia mengatakan ini.
Kebersamaan untuk menatanya, mengaturnya dan membersihkannya.
Kalau semua orang merasa dirinya sibuk, jadi bos dan cukup dengan membayar iuran RT/RW, lalu ketika kerja bakti hanya memberi uang rokok yang ternyata hanya masuk ke kantong pengurus maka tunggu Jakarta Ambruk.

Wahhhh, ngeri juga. Lalu dengan sedikit suara tertahan,
" Kalau sibuk, subuh-subuh mereka sibuk apa sih?. Cukup satu orang didepan rumah bersihkan got masing-masing paling lima menit selesai".
" Tak usah kerja bakti, nanti kalau kerja bakti jawaban mereka paling,.... wahhhh lembur nih gak bisa bantu. Ini uang rokok aja ya".
"Padahal didalam mereka nonton film terbaru di depan layar TV Plasma 40 inchi".

Waduhhh, kok sara nih pak ?
" Loh bukan ke orang dari XXXX saja lho, semua. Gak jawa, gak Sunda, gak China. Tapi khusus yang merasa BOS yang paling saya gak suka !".
" Lahhhh... kitanya nungging-nungging di Got depan rumah dia. Ehhh malah asyik baca koran. Lalu nongol kepalanya doang, lalu ngomong iya nih tiap hari banyak sampahnya. Kadang si-anu tuh buangnya sampah di got ".

" Emang si-Anu suka begitu ya pak ?", tanyaku.
" Mana bisa si-Anu buang bungkus PIZZA HUT, orang makan aja harus ngutang".
Memang kata bapak yang BOS tadi, sering ia menemukan bungkus-bungkus plastik dari Hypermarket terkenal. Yang tak mungkin orang kampung mengaksesnya.

" Lalu menurut Bapak baiknya gimana ?", tanyaku lagi.
" Ya itu. Luangkan waktu 5 menit di pagi hari bersihkan got masing-masing".

" Kalau mereka gak mau pak ??? ".
" Huuuhhhh, sekali-kali saya pingin cium bau darah mereka.
Bosan tiap hari dengan Pesingnya air kencing mereka !".

gambar dari sini

Rabu, 21 April 2010

VIVA MAFIOSO


Anggodo Tepuk dada,
Siapa Lu ?!!!

Kan dah Gue Bilang RI-1 dah Oke.
Mau gonjang-ganjing Negeri ini,
Amannnnnn.......
Duitttt......duiiiitttt

( kayaknya begitu isi hati Anggodo saat ini )

Hmmmmmm.......
Bakal Rumyam Negeri ini.
Berbagai badan penegak keadilan dibentuk,
Rontok juga pada akhirnya.

Kepolisian,.... gampang.
Kejaksaan,...... bisa diatur.
Pengadilan,..... he..he..he... ada koq orang kita.

KPK,.....
gak doyan duit kasih Cewek, apa sih susahnya.

SATGAS MAFIA HUKUM,.....
he...he...he....
Jangan-jangan hanya sebuah upaya Pencitraan kembali.

Jangan bilang sekarang Era Penegakan Hukum
Karena kembali sebuah Drama Lucu Pengadilan Negeri ini naik tayang
ANGGODO MENANG !!!!

Kelanjutannya ???
Tanya pada Pedang yang bergoyang....

Kamis, 25 Februari 2010

Di Test Oleh Malaikat


Judulnya serem,..
Tapi itu kenyataan.
Sebuah Kisah nyata yang sampai sekarang kerap mengganggu Fikiranku.

Siang itu, setelah petentang-petenteng mengamati berbagai Ukuran TV LCD yang di pajang di sebuah Toko di GLODOK.
Lalu basa-basi tanya tentang Spek sebuah TV Plasma 42 Inchi,
Yang anehnya diladeni dengan ramah dan telaten sama yang jaga.
Padahal Jujur penampilan hanya layak untuk TV Tabung itupun 14 Inchi, merk Cina lagi.

Salut tuk Orang yang satu itu, dah ganteng, sopan lagi.
Jadi naksir.... UPSSSS !!! ( jebul.... Gay ya? )
Jangan ngaco.., anakku kan Perempuan semua.
Bisa aja buat calon anakku.
( tapi koq njodohin sama penjaga toko ).
Kata siapa.. wong dia yang punya Toko.

Yuppss, Setelah Puas, Lihat-lihat. Kulangkahkan, yang tepat kuputar roda Motorku ke arah Senen. Tepatnya sebuah Hypermarket Segala Alat dan Keperluan terbesar di Jakarta. Letaknya di timur setasiun Kereta Api Senen.

Emang ada Hypermarket disana ???
Ada... PONCOL SUPERSTORE.
Mau cari apa aja ada. Baju Merk Luar negeri, Sepatu, Alat Musik, Perkakas Rumah tangga, sampai gantungan Kunci, Proyektor dan Pistol...geretan ada semua.
Bahkan cari Bekas Pacar juga ada..., ( yang bener mas ? )
Iya, kebetulan bekas pacar Jualan Baju bekas di sana.
Anak buahnya 15 orang..... Manthabsss.

Maksud hati mau nyari BRAKET LCD ukuran 42, harga baru 750-an.
Kalau di Poncol dengar-dengar hanya 200-an rebu.
( Mas emang TV-nya jadi beli ??? )
Belum, tapi persiapan.
Beli mobil aja bikin Garasi dulu, betul Gak ?

Ternyata...eh ternyata.
Setelah bolak balik gak ada itu barang.
Uhhhh dengan gontai aku jalan ke Parkiran.
Mungkin LCD TV-nya dulu yang dibeli, baru cari breketnya.
Kan Lucu belum beli Motor beli Helmnya.

Pas di parkiran.... Bresssssssss Hujan. ( bunyinya aneh bresss... )
Gak ada salahnya berteduh,.. sambil menyedot Sprite.
Ternyata sesuai iklannya, air langsung membasahi sekujur badan.
Jebul talangnya ambrol.... wk..kk..kk... kirain kayak iklannya.

...dan disitulah terpampang sebuah pemandangan yang membuat aku muak dengan Negeri ini.

Muak dengan Presiden,
Muak dengan Menteri Sosial,
dan Muak dengan Departemen Sosial.


Kerjanya apa sih mereka itu ???.

Sesosok wanita tua, berjalan dengan menyeret pantatnya, ( maaf ).
Beringsut ia dengan ditopang kedua tangan,
kakinya buntung satu.
Tanpa memedulikan hujan yang lebat ia menyebrang jalan, pelan.
Sesekali motor dan Bajaj berhenti mendadak untuk memberinya waktu.
Karena memang jalan Poncol sangat sempit.
lalu ia menepi di emperan kios penjual besi bekas.

Terketuk,
trenyuh.
kurogoh kusiapkan 5 ribuan,
namun dalam batin, aku ambil motorku dulu.
Baru setelah itu memberinya sambil jalan pulang.

Setelah kunaiki Motorku, walau Jok agak basah.
Kuhampiri posisi si-Ibu tadi.
Tapi entah dimana dia.
Secara nalar, dengan cara jalan dan fisik dia yang seperti itu.
Tak mungkin ia dapat pergi secepat itu.

Tempat aku parkir hanya 3 langkah dari ia duduk.
Dan hanya butuh waktu tak lebih puluhan detik ia telah menghilang.
Berdesir.... rasa di kuduk.
Apalagi setelah kutanya si Penjaga Parkir, ia tak melihatnya dari tadi.

Dan lebih terheran-heran setelah kuparkir kembali motorku untuk mencari jawab atas rasa penasaranku, tak ada gang untuk jalan ia pergi.
Dan hanya ada 1 Jawaban,
Ia Malaikat yang mengetesku.
ahhhhh.... kenapa tak langsung aku beri saja uang itu.
Sesal kini yang ada.

hmmmmm....
Mungkin ini gambaran Negeri ini.
Terbayang betapa banyak Bencana yang terlambat tertangani karena terlalu banyak pemikiran, pertimbangan dan perhitungan.

Yahhh... Sudahlah.
Sebuah kotak dari kaca akhirnya sasaran akhirku siang itu.
Semoga Sang Malaikat mau memaafkanku, memaafkan Negeri ini.

Ada kesadaran yang kian tertanam dalam batin,
Walau selama ini memang tak pernah ada kata " MAAF ", untuk setiap Pengemis,
Pengamen dan Peminta Sumbangan.

Karena Jujur, Akupun takut bila ALLAH yang Maha Kuasa berkata MAAF untuk Doaku.

Kini kesadaran baru tertanam lagi untuk tidak mengulur-ulur ketika Niat itu lahir dihati.

Rabu, 24 Februari 2010

Akhirnya Cerai Juga


Setelah sekian lama hidup bersama,
dalam satu ikatan yang saling mengerti,
Saling mengisi,
saling berbagi.

Pagi ini dengan berat hati aku Cerai Pasangan hidupku yang satu itu.

LOHHHH.....
Secepat itu mas ?
Mbok ya pikir-pikir dulu, nasehat teman dan keluarga.
Tapi keputusanku telah bulat.

Dengan berbekal Surat Kontrak.
LOH KAWIN KONTRAK YA ?
sssstttt... ntar dulu, jangan main Potong.

Terus Foto kopy KTP dan Materai Rp.6000,-
Tak lupa Uang Idhah buat belanja mantan bulan depan.

Setelah dengan dandanan yang agak dibuat klimis,
Dengan semangat yang memuncak kugeber Motor-ku.
Entah kecepatan berapa aku tak tau.
Yang kuingat JAGUAR kulewati,
BMW kusalip dengan enteng,
bahkan CBR keluaran terbaru kuasapi.
Tapi entah mengapa BAJAJ Oranye dengan knalpot nyaringnya berhasil ngepot didepanku.

LOH ?
Katanya ngebut, bisa nyalip BMW, CBR dan JAGUAR ama BAJAJ kok kalah.
Ya Iya wong CBR, BMW dan JAGUAR Parkir.

Singkat cerita....., enggak ding. Yang bener lama.
Aku dapatkan Nomor antrian no.99
di kertas tersebut tertulis PLASA TELKOM KOTA, antrian 40 nomor lagi.

Lah... koq makin gak jelas.
Ngurus Cerai kok di PLASA Telkom.
Bisa aja, wong yang tak cerai Si Siti Pede,
Pasangan Inetku selama ini.

Yap.... 2 jam mengantri akhirnya semua berjalan lancar.
Nomor 99 dipanggil dengan mesra.
Customer service-nya Cewek, LELA namanya.

" Kenapa koq mau Pisahan ?", tanyanya keibuan.
" Anu bu...., gak bisa ngasih Nafkah", jawabku tersipu malu.
" Alahhhh.... paling kamu selingkuh ya ?.
DEGGG.... loh koq tau ya kalau aku selama ini punya simpanan.
Memang Jujur kuakui, belakangan aku intim dengan si I'im.
Dan jujur juga kalau aku sering jalan dengan si Marti.

Dan karena wajahku yang aku buat memelas,
akhirnya Surat talak itu aku pegang.

" Nafkah bulan ini sudah dikasih mas ? ", tanya Bu Lela.
" Udah bu".
" Nafkah bulan depan harus dibayar juga ya ".
" Siap Bu".

Dan langkahku ringan meninggalkan Rumah mantan mertuaku.
Dalam batin, gak apa-apa yang penting masih ada si Marti dan si I-im.
Bahkan kemarin ada yang kirim salam,... namanya si euis.
Hmmmmm.... alangkah nikmat hidup ini.

Ket :
Si Marti baca : SMART
si I-im baca : IM2
si Euis baca : Axis

Kamis, 28 Januari 2010

Usaha Kecil Sekali


Posting dengan badan Pegel Linu sehabis ikut ( nonton ) demo.
Geregetannnn,...
Hati berdegup, berdetak,
kadang ketar-ketir.

Geregetan, karena telah datang jauh-jauh mau silaturahmi.
Eh yang punya rumah malah pergi.

Dag..dig..dug-nya terletup semangat, inget muda dulu.
Dengan semangat dan jiwa muda, mengemban suara rakyat.
Dan alhamdulilah, sekarangpun masih setia.
Apalagi sekarang telah menjadi sejatinya Rakyat.

Ketar-ketir karena sebentar-bentar banyak masa berlarian.
Takut terjadi bentrokan, tapi ternyata tidak.

Mengenai Rakyat, hal yang menjadi perhatian utamaku sebagai
penonton yang sekaligus nyemplung adalah Penolakan AFTA+China.
Karena ini hal yang akan sangat berpengaruh pada kehidupanku,
kehidupan tetanga-tetanggaku, dan terutama pelanggan warung istriku.

Yap, secara aku memang tinggal di Sentra Industri Konfeksi, dan Usaha
istriku adalah Warung kecil dengan pelanggan para Buruh Konfeksi dan sejenisnya.
Salah satu Poin Agreement yang masuk dalam kesepakatan
Afta+China adalah Textil dan Barang Turunannya.

Tak bisa dibayangkan betapa terpuruknya nasib para Pengusaha Konfeksi,
Buruh Penjahitnya, Bordirnya, Penjual Benangnya, Usaha Pasang kancingnya,
Para pengusaha Warungnya, Tukang gerobaknya, buruh Lipatnya, buruh Gosoknya,
dan yang lainnya.

Kadang aku gak tau, apakah mereka para pengambil kebijakan di Istana
sudah memikirkan sampai sejauh itu. Bahwa kebijakan yang mereka ambil
cepat atau lambat akan membunuh rakyatnya sendiri.

Pernah iseng, ngebel ke Istana Negara. Berniat mengajak makan malam para petinggi
di warung istriku. Dengan menu rakyat kecil yang katanya sudah makmur tapi
masih berkutat dengan Makanan Wajib, Nasi sayur dan Goreng Tempe.
Lalu duduk diteras mengamati kehidupan di Gang sempit Sawah Lio.
Untuk mencermati betapa suatu kebijakan berimbas Luas kepada kami.

Tapi jebul nyasar, yang ngangkat suara cewek bersuara merdu.
" Halo, Istana Boneka. Ada yang bisa kami bantu... Kreeekkkkk.

Tapi sudahlah, ada semangat baru. Yang sebenarnya kecil, timbul tenggelam.
Bahwa bangsa ini bangsa yang biasa menderita.
Saat ini tulang punggung Perekonomian Indonesia adalah UKM.
Nah bila Usaha Kecil dan menengah ini juga ambruk masih ada UKS.
Usaha Kecil Sekali.

Tanpa Modal, yang penting semangat dan keberanian Usaha.
Apa sihhhh ?
NGUUUTILLLLLL........,
Nodonnnng.....,
Ngrammmmpoook......,
Bukankah Lapas sekarang fasilitasnya sudah dan akan semakin diperbaiki, kata Patrialis Akbar.
Mending di Bui dapat makan, daripada di Luar tak bisa makan.

Gambar diambil disini

Selasa, 12 Januari 2010

WANG MAHA KUASA


Upsss salah judul.
Nggak juga.
Salah ketik, Bukan juga.
Lalu apa ?

Gak ada yang salah, memang judulnya benar WANG MAHA KUASA.
He.he..he.. plesetan UANG MAHA KUASA.
Loh koq Uang ?.
Bukannya yang Maha Kuasa hanya Allah ?
Betul, dan itu Haqiqi.

Tapi ini juga cerita nyata bahwa di Negeri yang berlandaskan pada Ketuhanan yang maha Esa, dan di dasari dengan Hukum ternyata yang berkuasa adalah WANG.

Hmmmm...... Sayup menghentak Iwan Fals dengan Pesawat tempurnya berteriak parau.
" Penguasa-penguasa. Berilah Hambamu Uang ! ".
Tau yang nyetel lagu Iwan Fals siapa, koq ya pas ama suasana hati.
Syairnya mantabhsss...penuh kritik sosial. Tapi ehhhh.... la koq diganti.
" Ada uang Abang disayang....", tulit-tulit disambut Alunan seruling maut iringi hentakan Kendang yang mendut-mendut.

Ya, ternyata memang benar adanya. Bahwa uang adalah Maha dari segala dewa.
Karena ia orang lupa segala,
Lupa anak,
Lupa Istri/Suami,
dan Lupa Iman. ( Tuhan kalah dalam periode ini, apalagi Hukum yang hanya ciptaan manusia ).

Adalah Lagu lama ketika Ekspos tentang Istana didalam Bui terungkap.
Karena semua sama-sama tahu,...
Kata penyanyai Dangdut lagi..,"T...S...T.... tahu sama tahu". ( Terus mang ampai
pagi ).
Benar, semua tau bahwa di setiap Tlatah Jajaran Kekuasaan di Negeri ini WANG yang berkuasa.
Bolehlah Kepala Kejaksaannya si Anu, tapi kalau ada uang ia yang berkuasa.
Bolehlah Kepala Pemerintahannya si Ono, tapi kalau ada Uang Cingcai-lah.
Bolehlah Kepala Polisinya si Eno, tapi kalau ada Uang.... bukan saya yang minta lohhh.....
Bolehlah Kepala Sipirnya si Entu, tapi kalau ada Uang... boleh Ngapling kan ? Ohhh...boleh-boleh.
Bolehlah si Dia istrinya si Entu, tapi kalau... upssss.....
yang ini DON TRY THIS AT YOUR LIFE.

Tapi sejijik-jijiknya diri ini memang begitulah keadaannya.
Lalu mau jadi apa Negeri ini....

OOOOOO......
DUNYO GONJANG GANJING
Tinggal tunggu Kuasa TUHAN berbicara.
dan tunggulah hingga saatnya Sang Maha-maha Berkuasa berfirman:
" OKELAH KALAU BEGITU !!! ".

Maka semua hening,
Senyap,
Rata....Lengang.
Dan tak lama kemudian,
" JAKSA UUURRRIIIIPPPP MAJU KAU !!!!"
" ARTALITAAAAAAAA SINI KAUUUUU !!!!!"
DI SINI UANGMU TAK BERLAKU !!!!!

dan melesaklah cemeti api sebesar tugu monas menghempaskan tubuh ringkih mereka.

Jumat, 01 Januari 2010

GITU AJA KOQ REPOT


Tahun 2009 telah berlalu,
Dengan aroma kemenyan menyeruak bumi dari dupa yang kemebul membawa harap.
Diselingi pijar kembang menyalak api.
Sementara walau lirih, doa atas Gusdur yang pergi meninggalkan alam fana tetap terdengar., khusyuk mendayu.

Budek...
Seneng...
Bingung...
Sumpek...
Sedih...
Campur aduk.

Selamat datang tahun baru,
Tahunnya yang baru.
Namun apakah nasib bisa baru, atau malah terjerembab semakin terpuruk.
Bukankah itu juga baru?.

Diujung genteng paling pojok,
Menengadah mencari tanda ilham.
Namun yang ada Gigi-gigi pongah tajam,
Yang dengan sombongnya semburkan Ludah apinya.

Yang ada hanya suka...,
yang nampak masgul dengan kecongkakanya.
Lalu dengan Berkacak pinggang menantang langit,
Awas Tuhan..... Langitmu kan ku Koyak.
Ciuuuuuuuuuuu.......
Horeeee...........
Duarrrrr....... hiyoooooooo

Hmmmmmmm......
Terserah kaulah.
Bukankah itu bukan Punyaku,
Namun tak bisakah kita sedikit mawas.
Apakah tak cukup Sang Kuasa memberi tanda.
Atau ingin tanda yang lebih nyata dari yang sesungguhnya Nyata.

Entahlah.
Diri memagut,
Yang terjadi terjadilah.
GITU AJA KOQ REPOT.

( Kerisauan batin, betapa bangsa ini ternyata tak mau belajar,
Bahkan ketika Bapaknya meninggal sekalipun, pesta musti berjalan )

Selasa, 29 Desember 2009

PEMERINTAHE PICEK ?


Lohhhh.....
Dingin-dingin gini kok Misuh.( Ngatain orang )
Seperti biasa, obrolan pagi di Warung istriku.
Kali ini Dulkimin asal Cilacap, yang sehari-harinya bekerja sebagai Buruh Konfeksi angkat bicara.

"Nah itukan Guwoblog. Belum dibuka Apta ( baca:AFTA ) aja barang dari luar udah kaya Sunami mbanjirin pasar. Ehhhhhh... ini dibuka plus Cina.
Apa nggak Picek mripate".

"Coba nanti kalau dah Resmi, barang dari Cina masuk bebas. Barang negeri kita gak bisa bersaing, konfeksi tutup, Warung juga tutup.......".

Wah ini gawat nih. Sudah masuk wilayah Keamanan dalam negeri, urusan dapur yang harus ngebul walau Dunia Gonjang-ganjing kayaknya terusik.

Mari coba kita merenung, kalau mau sambil ngopi biar nampak serius. Terus siapin Rokok Kretek. Yang perempuan sambil NGINANG Kapur sirih. ( Mbayangin blogger wanita pada Nyirih lucu kali ya... , lambene Ndobleh Merah ).

Siapkah Indonesia menghadapi AFTA, atau bahkan AFTA Plus China.
Sumber Daya Alam? ada.
Sumber Daya Manusia ? Banyak !.
Kemampuan SDM-nya ? he..he...he...
Tekhnologi ? Gak tau. Wong nyatanya Produk dalem negeri jarang terdengar.
Birokrasi ? Grrrrr...hhhhrrr. Bikin KTP aja repot apalagi ngurus izin Usaha.
Subsidi / Insentif Usaha dari Negara ? Boro-boro subsidi, di-PUNGLI memang iya.
Sarana-Prasarana ? Upsss... Listrik aja byarpet. Jalan banyak Lobang.

Ternyata, memang benar kata Dulkimin, Pemerintahnya Picek alias Buta.
Entah benar-benar Buta atau dibutakan sesuatu.

Husssss.... jangan sembarangan.
Lohhh kan bisa saja Delegasi China nego dengan Delegasi Indonesia.
Lalu masing-masing manggut-manggut.
"... CINGCAY LAHHHH,masa gitu aja lu gak bisa atur", kata si Engkoh dari Glodok.

Widihhhhhhhh,......
Jangan dehhhhhh.

( Gambaran : Negara sekuat Amerika yang jelas-jelas kuat SDM, Tekhnologi dan Birokrasi yang bersahabat untuk dunia Usaha. Berjuang mati-matian membatasi barang dari Luar negeri masuk ke Negaranya. Entah dengan berbagai Peraturan dan regulasi yang ketat, sampai berbagai Pajak tinggi untuk membuat Barang Dalam Negeri bisa tetap bisa bersaing ).

Senin, 28 Desember 2009

PINTU KEADILAN ITU TERKUAK


Hari ini, disiang yang sejuk bergelayut mendung ternyata membawa kesejukan pula di sanubari setiap insan pendamba Keadilan di Negeri ini.
Pengadilan Negeri Tanggerang Memutuskan BEBAS MURNI atas dakwaan RS OMNI.

Sebuah kasus yang bermula dari suara hati yang menyuarakan keluh kesah seorang ibu yang merasa dirugikan atas pelayanan sebuah Rumah Sakit bertaraf Internasional.

Kasus dimana sebuah Hak untuk menyampaikan Pendapat, kata hati dan Suara Jiwa telah coba di Kerangkeng oleh para Pemikir Kekuasaan untuk melindungi hak orang lain, katanya.

Syukur alhamdulilah, pintu Keadilan hari ini terkuak walau sedikit.
Kita harus sadar bahwa masih banyak Prita-prita lain di Luar sana.
Perjuangan belum berakhir,
Ini baru tapak kecil dari jalur Terjal yang harus kita lalui.
Jalur penuh Liku, penuh tipu.
Mewujudkan Sebuah Keadilan.

Rabu, 23 Desember 2009

CENGKRAMAN SI INET

Hampir sebulan tak Posting, kerjanya hanya muter-muter ngliatin tetangga yg lagi bengong ngliatin monitor. Yang satu, lagi nungging sambil Update status di Facebook. Yang satunya melototin Layar Blueberry sambil nge-Twiter,.... eh salah ya. Habis ini yang buatan China. Kalau yang asli kan Blackberry, yang plasu kan blueberry.

Ujung gang sana seorang teman nyengir kuda, jebul buka tab sampai tiga. Tab pertama facebook dengan account seorang gadis manis. Sementara tab kedua, gadis manis juga.... si Jasmine yang lagi tayang langsung alias 'live'. Dan tab terakhir nyangkut di 'hub' yang suka parno.

Yang parah, ada antrian panjang di depan loket melingker-lingker. Membuat petugas Loket tak henti mengetik di papan keyboard. Jebul setelah tak longok lagi ngedit Postingan blog.

Wuiiihhhhhhh,....
Eitttsssss.... belum selesai. Kang Iming, tukang Grobak, yang biasa ngangkutin sampah di seputaran Warung istriku tak kalah sibuk menekan tuts. Sambil nunggu Ibu-ibu yang belum setoran ( sampahnya ), ia meluangkan update status.
Ohhh,....maaf jebul main game di Hp. Katanya game download-an baru dari inet.

Akhirnya Sambil Ngupil, beneran ini. Musimnya kan lagi dingin sering ujan. Wajar Pilek, terus mengeras jadi upil. Dan Upil harus dibersihkan, karena kalau tak dibersihkan tunggu saja satu minggu kalau gak mampet itu hidung.

Kembali sambil ngupil, adalah nyata bahwa kita sudah semakin terjerat dengan dunia IT, dunia Maya. Cari pacar, browsing jejaring sosial . Cari Informasi tinggal klik. Mau belanja tinggal 'pejet'. Lagi dingin pingin panas tinggal 'tekan'.

Ngeluh..., kesel...,.... marah tinggal ngetik.
Nah....., ini yang kacau. Ngeluh sampai teriak satu RT-pun tentang layanan OMNI mungkin tak ada masalah.
Atau teriak-teriak "WARTAWAN BANG......!!!", dalam mobil kaya si Luna juga gak apa-apa. Paling si Supir mbatin, "Cantik-cantik Stress".

Nah ini pekerjaan Rumah buat kita semua. Sebaiknya seperti apa. Apakah rambu-rambu yang ada sudah cukup, dan tidak Ngaret. Atau memang sudah perlu dari mulai tingkat dasar ada PELAJARAN ETIKA BERINTERNET.

Rabu, 09 Desember 2009

KORUPSI, BUDAYA ?


Ini adalah Hasil Nguping di Pagi hari. Walau bukan nguping dalam arti sebenarnya, dimana Kuping ditempelin di Tembok menyaring Suara-suara Syahdu. ( teringat masa lalu nih ).

Tapi lebih tepat ikut ndengerin. Ya, ikut ndengerin obrolan pagi yang selalu hangat kebul-kebul, Sehangat Gorengan 'NDOMBYANG' mbak Nah.
Pagi itu Topiknya adalah Aksi Peringatan Hari Anti Korupsi yang siangnya akan dilaksanakan di Monas.

Mbah Slamet, langganan tak tetap warung istriku. ( Langganan koq gak tetap ?, Iya Si Mbah hanya makan kalau pas keliling Jualan Berbagai macam Sapu di sekitar wilayah Warung istriku ). Nyrocos menimpali Pembicara di METRO TV.

" Korupsi itu kan Budaya. Nah Budaya itu klangenan dan sulit dihilangkan",katanya sambil ngunyah 'NDOMBYANG' dengan mulut yang mangap-mangap susah kepanasan dan ditambah giginya yang Ompong.
" Budaya gimana mbah ?", tanyaku.
" Lah iya. Dimana - mana ada. Kan namanya membudaya.., ngetren kata cah muda sekarang".
" Dan itu sudah kaya seni, Klangenan, kebiasaan. Jadi susah di hilangkan".

Wah....
Tertegun aku.

Tapi kalau mau jujur memang sangat benar kata Mbah Slamet. Sesuatu yang sudah membudaya susah dihilangkan, malah kadang kitapun latah membenarkan.
Coba kita kaji lebih dalam namun dengan tataran sederhana.

Seorang Ibu menyuruh anaknya beli sesuatu ke Warung. Namun sang anak nampak begitu enggan. Lalu apa tindakan sang Ibu. " Nak, ini nanti kembaliannya buat kamu jajan ".

Atau seorang Pedagang Nasi yang beli kelapa di pasar. Sang pekerja sedang sibuk memarut kelapa yang telah lebih dulu dipesan oleh pembeli lain. Si Pedagang Nasi karena tak mau kelamaan sambil mendekat lalu berbisik," Saya diduluin ya. Nih buat Rokok".

Dan contoh-contoh lainnya yg masih banyak. Betapa baru sadar bahwa kita telah dari kecil di cekoki dengan cara-cara Korupsi. Lalu di pergaulan dan kehidupan keseharian begitu banyak tindak-tindak korupsi.

Tak ada yang salah melihat seseorang memberi salam tempel ke RT agar KTP-nya cepat jadi. Atau Ketika Kita dapat pesanan Kue, yang biasanya ukuran 4-5 gigitan harganya Rp.500,-. Mentang-mentang ada hajatan dengan harga sama dibuat ukuran hanya 3 gigitan.

Itu kenyataan, dan hebatnya lagi. Ketika kita menjadi korban Korupsi, bukannya kita melawan. Yang sering kita mencari konpensasi atas kerugian dari Korupsi tadi dengan tindakan lain yang merugikan orang lain lagi, KORUPSI BERANTAI.

Maka pada Hari Anti Korupsi se-Dunia ini. Betapa kesadaran bahwa BUDAYA KORUPSI sudah mendarah daging di Masyarakat kita. Perlu ada Usaha bersama tiada henti untuk melawan dan menghilangkan Budaya itu. Bukan dengan Hukum, bukan dengan aturan. Tapi dengan BUDAYA juga. Yaitu budaya ANTI KORUPSI.

Peraturan dan Hukum bisa seketat dan sekeras mungkin. Tapi bila Budaya Korupsi masih bercokol, mereka hanya berganti Topeng dan cara.

WASPADALAH....
Waspadalah....

Minggu, 06 Desember 2009

PEMUTIHAN KASUS KORUPSI


Tak seperti biasanya, Istana Negara pagi itu begitu meriah. Penuh Hiasan warna-warni, banyak bunga disana-sini. Indah, terbuka dan begitu hangat.
Penjaga Keamanan yang biasanya pasang muka serem juga Nampak lain. Senyumnya merekah seperti Kue Bolu Kukus yang hangat kebul-kebul. Baunya wangi semerbak, dengan setelan batik dan Sarung Samarinda menyalami para tamu yang Nampak tiada henti hilir mudik.

Memang Nampak begitu lain, begitu istimewa. Apalagi bila mengamati para tamu yang hadir.

Di deretan kursi kehormatan duduk dengan diapit ketua KPK non aktif Antasari Azhar dan Mantan Kabareskrim Soesno adji adalah ANGGORO yang kemarin katanya buronan kasus Bank Century. Mereka Nampak begitu akrab.
Sementara itu di atas Podium SBY sedang bercengkrama dengan Sang Besan, didampingi TETEN Masduki. Didepannya duduk lesehan di atas Podium GUSDUR, Mbak Mega dan Pak Amin.

Semuanya tampak akrab, sumringah dan ramai. Apalagi sesekali ada celotehan lucu dari barisan tengah yang terdiri dari para Gubernur, Bupati dan anggota DPR, DPRD yang dikabarkan tersangkut masalah Korupsi membicarakan kesan dan kenangan mereka ketika melakukan tindak Pidana Korupsi.

Tak jauh dari situ, Artalita sesekali tertawa keras sambil ngobrol dengan Kejagung. Dan di pojokan Anggodo sedang mengatur tata letak Podium, sambil sesekali membenarkan sebuah Spanduk Raksasa yang tak terikat kuat hingga kadang terkiwir-kiwir tertiup angin.

Sungguh… Suatu pemandangan yang sangat Luar biasa. Betapa tidak. Orang-orang yang selama ini bergontok-gontokan saling tuduh, saling bela, saling mungkir masalah korupsi. Bisa saling akur.

Dan yang lebih mengagetkan. Ketika acara dibuka, satu persatu undangan naik Podium utk menyampaikan sambutan ada beberapa Tokoh yang selama ini Nampak bersih dengan lantang mengakui pernah melakukan “NGENTIT “ duit Negara.

Wahhhhhh…… APA GERANGAN INI. Koq mereka sekarang begitu JUJUR, KSATRIA dan TERBUKA. Tidak seperti biasanya, dengan Klimputan Nipu sana-sini. Bohong ini itu.

Ternyata dan Tak lain, acara di Istana Negara adalah PENCANANGAN PEKAN PEMUTIHAN KASUS KORUPSI NASIONAL. Bahwa selama sepekan dibuka kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun Pelaku Korupsi di seluruh Pelosok Negeri ini untuk memutihkan masalah Korupsi yang dilakukannya. Semuanya Bebas, dan tanpa tuntutan apapun termasuk keharusan mengembalikan hasil Korupsinya. Yang penting NGAKU dan janji GAK akan NGULANGIN lagi.

Dan bagi yang Korupsi tapi gak ketahuan dan mau ngaku, Maka Pangkat dan Gajinya akan dinaikan. Maka tak heran Gagasan PEKAN PEMUTIHAN KASUS KORUPSI NASIONAL itu mendapat sambutan yang sangat-sangat luar biasa. Tidak saja di Jakarta tapi hingga pelosok penjuru negeri, para pelaksana Pemerintahan hingga yang hanya jadi tukang sapu kantornya, bahkan yang hanya pernah numpang bikin surat keterangan di balaidesa.

Semua saling berebut untuk memutihkan urusannya. Mumpung gratis, dan dapat Hadiah lagi.
1. Yang hanya menyogok dapat KOMPOR GAS.
2. Yang pernah menyuap Untuk TENDER, dapat MAGIC JAR.
3. Yang pernah main mata dengan POLISI, JAKSA dan HAKIM dapat DVD Player.
4. Yang pernah Curang TENDER, dapat RUMAH Type C90 di Perumahan terdekat.
( hadiah berlaku untuk yang menyuap dan yang disuap, yg penting sama-sama ngaku )

Akupun tak ketinggalan antri di kelurahan setempat. Jujur aku pernah nyuap Pak RT, soale KTP-ku tak tulis PERJAKA biar bisa kawin lagi. Dan ternyata antriannya luar biasa. Melebihi dari pembagian Zakat dan daging Qurban. Sebagian bisa tertib, sebagian seperti biasa berusaha menyerobot, termasuk aku.

Ketika ada kesempatan, aku meyeruak antrian. Aku dorong yang didepan. Ternyata yang didepan bertahan. Mendadak dari samping mendorong dengan keras. Aku yang konsentrasi akan maju tak menyangka dapat dorongan maka terjerembab ke samping. Dan apesnya disitu ada GOT, terjeburlah aku.

Dan ternyata, aku terbangun dengan badan basah kuyub tersiram air hujan yang tampias karena lupa menutup Krei. JEBUL MIMPI. OALAHHHHH,….. Kirain.

Andai itu kenyataan….

Kamis, 12 November 2009

DPR...., KOMODO ?


Setelah lama menunggu, tentang gonjang-ganjing Negeri ini. Akhirnya keluar juga sang wakil rakyat dari sarangnya.

Ada harapan adiluhung, bahwa sebagai wakil rakyat tentu ia adalah pencerminan suara rakyat yang banyak terdengar. Paling tidak menyambung lidah rakyat, atau paling jauh nyerempet dikit suara rakyat.

Ehhhhhhhhhh..., ternyata oh ternyata. Yang keluar Komodo. Dengan garang menantang TPF BIBIT CHANDRA utk adu debat. Bukan menggandengnya, lalu bersinergi dan kerjasama. Dan yang lebih hebat, Komodonya bisa ganti kulit bersikap manis ketika Rapat kerja dengan Jaksa Agung dan Kapolri.

Loh koq Komodo ?
Ya, ini pas saya kira. Setelah Cicak, Buaya dan sekarang Komodo. Diam, pelan tapi Happpppssss... sekali sergap musnah kehidupan. Jangankan yang kegigit, yg terkena air liurnya saja kelenger dan mati.

Lalu kenapa bisa seperti ini?
Adakah skenario terselubung ?
Hmmmmmmmmmm........ ONO KEBUL PASTI ONO GENINE ( ada asap ada apinya ).

Terawangan Mbah Bejo, tetangga sebelah adalah sebagai berikut.

"Ini Korupsi Massal, Semua RESEN ( kebagian ). Ya Pulisi, Ya Jaksa, Ya DPR, malah PresiXXX. Jadi jangan ngarep masalah ini kelar kalau tak ada GORO-GORO.
Anggodo-Anggoro tak bakalan ditangkep. Karena kalau mereka ditangkep maka semua kena. Bisa penuh penjara di negeri ini.

DPR juga sekarang bukan Dewan Perwakilan Rakyat, tapi dewan penipu rakyat atau dewan pengkhianat rakyat. Mereka itu taunya cari duit, rakyat hanya GEDIBAL ( kotoran yg melekat di kaki/alas kaki )".


Wahhhhhhh.... sebegitu parahkah ?.

Kamis, 05 November 2009

CICAK, BUAYA lalu kemudian APA ?


Edan......
Setelah CICAK dan BUAYA kita kira telah masuk ke babak baru yang Insya Allah semakin terang. Ternyata tetap dibayangi kemungkinan-kemungkinan kasus ini akan gagal dan teronggok begitu saja.

Loh koq Pesimis .....

Ya. Bagaimana tidak. Tokoh sentral yang seharusnya bisa memainkan Peran utama dalam masalah ini justru sembunyi dengan alasan Hukum. Malah membentuk TPF, yang ternyata segala Anjurannya juga tak di laksanakan sama sekali. SBY ternyata memang sangat LEMAH, kalau tak bisa dibilang LEMBUT bahkan LOYO.

Kemudian ditambah Kinerja KEPOLISIAN yang ternyata sangat kentara DUALISME kebijakannya dalam menangani suatu Kasus. Salah satu Bukti, terhadap BIBIT CHANDRA Kepolisian Negara ini dengan percaya diri menahannya dengan alasan Takut melarikan diri, Suka ngoceh mempengaruhi Opini Publik, atau bahkan dikwatirkan menghilangkan Barang Bukti. Padahal kita semua tahu siapa BIBIT CHANDRA.

Nah terhadap ANGODO yang nyata-nyata menyerahkan Uang 5 Milyar untuk menyelesaikan kasus Abangnya si Buronan CENTURY, Anggoro. Dan terbukti ada niat untuk mengkriminalkan KPK lewat Bukti rekaman yg kemarin kita dengar di Mahkamah Konstitusi. Polisi tak berani menunjukkan Taringnya. Dengan alasan tak cukup barang bukti dan alasan penahan, anggodo tetap bebas berlenggang kangkung.

Ditambah Kabareskrim-nya, mengundurkan diri. Semacam ada permainan lagi di Kepolisian. Jangan-jangan ANGGODO masih punya Power dan mengancam, kalau dia ditahan akan dibuka semua. Hancurlah nama Kepolisian, Semoga ini tidak.

Dan yang paling FATAL. Menteri Hukum Negara ini, PATRIALIS AKBAR sebagai kepanjangan tangan Presiden dengan lantang menanyakan apakah ada hubungan Pemutaran Rekaman Skandal Anggodo dengan pengajuan hukum yang diajukan BIBIT-CHANDRA lewat Mahkamah Konstitusi.

SHITTTTT.......
Konstitusi Prosedural.
Yang walaupun nyata-nyata terpampang di depan mata, tapi bila tak lewat Prosedur dengan Hukum Positif negeri ini, semua tak ada arti.
Lalu dimana Hati nurani Keadilan mereka ?
Dimana Mata batin kebenaran mereka ?

Sebuah tanda tanya besar menggantung diatas Langit Negeri ini.
Akankah Hukum menjadi Juru adil,
Ataukah Uang yang akan mengadili Hukum.

Jawabnya jangan kau tanya kepada Rumput yang bergoyang.
Karena sekarang sang rumput telah kering terbakar.

Sabtu, 31 Oktober 2009

SOEMPAH PEMOEDA


Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Miris.......
Di Saat yang bersamaan Para Petinggi Negeri
Dengan Bangga mendengungkan.....

" NATIONAL SUMMIT ".

Bahasa Indonesia.
Teronggok di Tong Sampah,
tak berharga.