Jumat, 01 Mei 2009

Tembok Yang Terkoyak, KPK.


Dua hari ini, ketika hiruk pikuk Suara Buruh keras membahana di langit Jakarta. Berganti Atmosfer kerlap-kerlip buram Dunia Pendidikan. Halilintar tanpa hujan mnggelegar, AA dijadikan saksi atas kasus Pembunuhan seorang Pengusaha Nasrudin Zulkarnaen.

Siapa AA. Ya , Antasari Azhar. Ketua Lembaga yang saat ini menjadi ujung tombak pemberantasan Korupsi, KPK. Sebuah lembaga yang beberapa tahun ini menjadi momok para Penyelenggara negeri ini. Lembaga yang dengan tangan dingin akan menyeret siapapun yang diduga dan terbukti melakukan tindakan korupsi. Siapapun, tak terkecuali besan Presiden. Sebegitu Hebatnya ia hingga menjadi momok mereka yang nakal.

Ada Suatu yang mengumpal di dada, rasa tak enak, sesak. Lembaga yang menjadi tembok terakhir ternyata retak. Walau memang statusnya masih saksi, tapi opini Publik telah terlanjur terbentuk, termasuk pada diri penulis. Jangan-jangan,... jangan-jangan........ , berbagai kekwatiran merebak. Karena jujur, hanya KPK-lah lembaga yang saat ini dipercaya bisa menembus kebuntuan penanganan Korupsi. Bila Ketuanya terkena perkara hukum, bagaimana lembaganya kelak.

Agak sedikit terhibur memang, bahwa KPK sebagai sebuah komisi memang tak tergantung mutlak kepada seorang ketua. Di dalamnya ada Tim yang bekerja menangani berbagai perkara. Fungsi Ketua hanyalah Koordinator, pembagi tugas dan Penanggungjawab Administratif.

Tapi bila merenung lebih dalam , Sebagai sebuah Lembaga yang kita ibaratkan kapal. Bila sang Nakhoda bermasalah maka Olenglah kapal itu. Otomatis perjalanan ke tujuan akan terganggu. Belum bila Gelombang besar berupa Pihak-pihak lain memanfaatkan situasi. Bisa Para tersangka kasus Korupsi, Pejabat yang diduga korupsi atau bahkan Rival Politik Pemerintahan yang sekarang. Maka makin Olenglah bahtera itu atau bahkan tenggelam. Dan makin suburlah korupsi di negeri ini.

Bisa dibayangkan makin seperti apa Negeri ini. Setelah kepolisian di pandang sebelah mata sebagai lembaga penegak Hukum yang bisak dibuat tidak tegak. Lalu Kejaksaan, setali tiga uang, berbagai kasus menyeret para jaksa ke terali besi. Kehakimanpun demikian, hingga ada istilah dalam dunia hukum kita. Ingin bebas harus satu paket, penyidik ( polisi ), Penuntut ( Jaksa) dan Pemutus ( hakim ).

Maka marilah sejenak untuk berharap, atau mungkin Khusuk berdoa. Agar dicukupkan bencana atas negeri ini. Beri yang terbaik, bila salah Hukum sesuai hukum yang berlaku. Selamatkan Lembaganya, teruskan kinerjanya.

Kamis, 30 April 2009

Buruh, Nasibmu kini



Mbbbooooooooooooooooooooooooooooooookkkkkkkkkkk !!!!
Emmmbbbbbaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk...!!!!!!!!!
Biiiiiiiiiiiiiiiiiiibbbbbbbbbbbiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkk !!!!!
Cuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuugggggggggggggggg !!!
OB.............................................

Itulah sebagian sebutan mereka, dari lebih banyak lagi panggilan yang kita tahu.
Apapun mereka disebut, dengan bahasa kasar hingga bahasa manis penuh kias tetaplah sama. Orang yang nasibnya belum sebaik seperti yang dicitakan.
( Aku takut, kalau aku sebut sebaik ' kita ' apakah aku masuk dalam kategori yang ' baik ' tersebut. Karena jujur aku juga kuli. )

Dan dimanapun mereka berada, entah di Rumah sederhana atau di Gedung tinggi semisal istana. Tempat mereka adalahah sama, tempat yang sebagian orang enggan menyambanginya. Entah itu dapur, tempat cuci, pantry dan sebagainya. Tugas mereka adalah seksi repot yang harus menyiapkan segala sesuatu untuk kepentingan tempat ia bekerja. Pekerja yang hanya tahu diperintah tanpa bisa, bahkan berhak untuk bertanya.

Marilah mengintip keluar jendela, ada rekan-rekan mereka. Bertempat beda namun nasib sama. Baik yang sedang memasang pipa untuk air minum, atau bergelayutan diatas tiang untuk terangnya malam. Atau bahkan yang hilir mudik dengan sepeda dengan tabung dibelakang, baik itu air maupun gas.

Agak jauh kita memandang, nampak dari balik pintu yang sedikit terbuka. Sosok-sosok yang trengginas dengan mesin jahitnya. Dengan tanpa lelah ia buatkan kita baju, celana, Sepatu hingga Televisi bahkan Pesawat. Dan terselip dipojok memainkan mesinnya sambil berdendang, .....ambilkan bulan bu.........
.....ambilkan bintang bu.......

Heiii, Coba tengok lebih jauh sedikit. Pasti kan kau lewati tangan-tangan mungil menyibak hari, dengan sayur di atas kepala, dengan kaki kecilnya yang berdiri anggun diatas roda. Atau bila kita sedikit mau mendengar lebih cermat, kan kau dengar dentang palu nan merdu memecah kerang.

Dan ayo , Mari kita berenang. Tuk sekedar menengok para buruh Jermal. Yang dengan tanganhitam kekarnya ia meraup udang. Nampak terselip di sana, sosok kecil dengan ingusnya.
Heiiiiii, jangan berhenti. Ayo ikuti awan kenegeri seberang. Ada nyanyi lirih dari sana yang lamat, lirih lalu menghilang. Senyap, berganti anyir darah membahana.

Itulah Mereka. KAUM BURUH.
Dari dulu hingga kini nasibmu entah.
Apakah Buruk, baik atau bahkan membusuk.
Deritamu kini dan dahulu tiada beda.
Hanya mengisi waktu menunggu jeda,
hingga jiwa tercabut dari ujung raga.

Senin, 27 April 2009

FLU BABI


Sudah satu minggu ini, Semua konsumen tempat aku usaha komplain dengan suaraku di Telepon yang agak sedikit berubah. Dari yang semula sember menjadi agak-agak serak basah plus 'bindeng', sama aja gak enak mas. Hingga kadang mereka harus teriak berulang-ulang...Apaaa???!!!.

Ya. Itulah anugrah terindah dari Allah, diberi sakit agar kita tau nikmatnya Sehat. Diberi lemah biar tahu memanfaatkan bila kita diberi kekuatan. Diberi yang jelek biar tau yang Cantik itu indah ( Ehh... Nggak ding. Cantik dan tidak kan Relatif. Yang penting kan hatinya ).

Flu dan Bindeng juga anugrah koq. Kita akhirnya tahu bahwa ada suara indah Mariah Carey, Suara merdu Bang Haji Rhoma Irama atau suara ngerock Yang punya Changcut. Coba bayangkan bila suara semua orang bindeng. Maka bindeng adalah wajar dan lumprah. Dan tak heran Penyanyi yang bindeng dan Sengaunya Parah malah jadi TOP HITS. ( Kacau....).

Dan yang lebih nikmat. NGUPIL. Sudah pernah ngupil ???. Pasti semua orang pernah. Inipun anugerah terindah yang Allah berikan kepada kita. Betapa nikmatnya ngupil. Emang nikmat ?. Kalau gak percaya perhatikan betapa damainya orang yang sedang ngupil. Kadang sampai merem melek, ada juga yang sambil nyengir. Apalagi ketika 'sang upil' sudah dengan sukses berada di ujung jari. Wahhhh.... Merdeka !!!.

Okelah, Flu, Pilek, Bindeng dan Sengau adalah anugrah. Benarkah ?. Mungkin kalau Flu itu masih kategori ringan, Pilek ringan, Bindeng dan Sengau juga yang nggak terlalu amat. Itu anugrah. Hingga ketika sakitpun masih ada kenikmatan yang dapat kita peroleh.

Tapi kalau FLU BURUNG, FLU SINGAPURA dan terakhir FLU BABI ?.
Anugerahkah itu ? Atau Bencana.
Jawabnya ada di anda semua.

Sabtu, 25 April 2009

Uang Kaget


Hari ini rasanya badan Remuk redam. Maklum manusia sempurna, bisa sehat bisa sakit. Sore tadi udah dikerok sih, pakai motif batik. Terus minum obat, tidur deh. Ngimpi jalan-jalan ke paris, terus loncat ke Dublin Ketemu Jengsri. Di Dublin ditraktir makan Soto Gromyang ( ??? ) ama goreng Oncom. He..he...he...he..

Bangun subuh mandi air panas kembali tenggelam dalam rutinitas. Hingga jam 12.00 wibb kantuk luar biasa menyerang. Pengaruh obat kali ya. Akhirnya terkapar aku di Springbed bajakan merk ' indonesialand' alias ubin.

Hampir satu jam setengah mungkin, ketika suara keras membuatku terbangun. "Buruan...!!!, nih dapat hadiah dari Telkomsel", seru istriku. Busyet angin apa nih Perusahaan yang pelit itu ngasih hadiah. Paling penipuan, sahutku. Cuma entah kenapa aku ingin tau gimana modusnya. Pakai cara baru atau cara muktahir yang udah di Update.

"Halo, Selamat siang. Dengan bapak Herlambang dari Telkomsel disini".
" Ya", sahutku, " Ada apa ya. Bener nih dapat hadiah ?". Pura-puraku bertanya.
" Iya nih Pak. Bapak beruntung mendapat hadiah Poin Telkomsel berupa Uang
7 juta rupiah. Dan mohon maaf deadline pengambilan jam 3 sore ini."

Dalam hati agak grogi juga, nanti bener nih.
" Lah ini kan udah jam setengah tiga pak", tanyaku.
" Oh, gampang kami bisa bantu agar uang bapak tidak angus", kata suara di sebrang
sana wibawa.
" Caranya Pak ?".
" Bapak punya Rekening? ".
" Ada sahutku", dari sini aku udah mulai mencium ketidak beresan.
" 17914789xx, ini no rekening saya", kataku selanjutnya.
" Oh tidak bapak. Bapak harus ke Atm terdekat, nanti di atm bapak beritahu saya.
Jangan diputus telponnya pak. " katanya dengan suara agak keras.

Dalam hati aku udah bisa memastikan bahwa orang ini penipu. Cuma sengaja aku kerjain. Aku duduk saja di tempatku biasa memelototi monitorku. Setelah cukup kurasa, langsung ku hubungi orang tersebut karena memang telpon diapun tak ditutup.
" Halo", kataku.
" Sudah sampai pak ?', tanyanya dengan sura agak ditekan.
" Sudah pak."

Selanjutnya dibimbinglah aku seperti layaknya transaksi di depan mesin Atm. Dan untungnya aku punya Buku panduan Klik BCA yang berisi urut-urutan transaksi. Transaksi pertama sukses, masuk pin, lalu disuruhnya memilih opsi e-bangking. Pintar juga, pikirku dalam hati. Lalu ditanyanya aku ada opsi apa lagi. Dan dengan pura-pura bego akusebutin opsi-opsi tersebut. Lalu ia perintahkan pilih 'isi ulang pulsa via sms'. Disini aku gelagapan karena dibuku panduan klik Bca Opsinya ke daftar Internet Banking.

Dan memang aku sendiri sudah tak tahan hingga akhirnya aku keras teriak.
" ANDA TERTIPU!!!!!!, Saya sedang duduk bukan di depan ATM. Basi!!!!!".
Tuuuuttt....tuuuttttt...tutttt. Telepon terputus.

Jumat, 24 April 2009

Kamis, 23 April 2009

Kangen 2



Hari Menjelang maghrib, biasanya waktu itu mbahku mulai mengeluarkan beberapa Lampu Templok. Terbuat dari bejana kaca yang diatasnya ada Corong kaca tipis yang melindungi sumbu api dari tiupan angin. Minyak tanah ia tuangkan, lalu sumbu ia sulut dengan api dari Korek api Pocel.

Kadang aku suka membantu, dan sering kami justru di marahi karena terlalu besar menyalakan sumbu hingga pas bangun tidur kami sekeluarga persis Jojon. Pelawak yang kumisnya persis di Lubang hidung. Ya. Karena bila terlalu besar jelanga dari lampu itu banyak berterbangan dan sebagian terhirup oleh kami, hingga lubang hidung kami hitam.

Maghrib kami saling beriringan dengan obor ditangan menuju surau untuk sholat maghrib dilanjutkan mengaji. Hujan tiba-tiba turun agak deras, kamipun berlarian agar cepat sampai. Dan di sana telah berkumpul dua puluhan teman sebaya. Tak sempat bercanda seperti biasanya, karena Iqomah telah diserukan.

Hujan mengiringi sholat kami, bahkan hingga Isya. Baru setelah usai mengaji ia mereda. Dan saat seperti inilah saat bagi kami untuk berburu dimulai. Berburu apa ? Laron....., wuiiiihhhhhh. Ya Laron. Serangga yang hidup dalam tanah, dan muncul bila usai hujan. Jumlahnya ribuan, hingga kadang kami susah berjalan karena pandangan kami dipenuhi oleh mereka.

Tubuhnya putih kekuningan, dengan kepala kecil hitam, sayap beningnya tak pernah henti terkepak. beterbangan sana kemari dalam remang mencari cahaya. Tahu nggak Laron ini rasanya... hmmmmmmmmmm, maknyusssss. Maka tanpa menunggu waktu lebih lama kami bergegas pulang.

Baskom besar berisi air telah siap, kami letakkan di depan rumah dekat dengantempat lubang dimana laron-laron itu bermunculan tiada henti. Di tengah baskom kami letakkan Lampu templok. Maka laron-laron itupun berebut kearah lampu itu. Mereka tanpa sadar menabrakkan diri ke Corong lampu itu, dan akhirnya jatuh ke air.

Beramai-ramai kami membersihkan sayap laron dengan menyianginya ( mencabutinya ). Lalu dengan bumbu yang sudah mbah siapkan, Srennnngggg.......... jadilah Laron Goreng yang gurih sedap. Dengan nasi sisa tadi sore, Wadang. Kamipun santap malam. Bukan di ruang makan. Tapi duduk jongkok didepan Pawon, menghangatkan badan.

Aduhhhh. Tersadar aku, Komputerku yang agak nyetruum tersenggol ujung Dengkulku. Lamunanku akan masa lalu buyar. Berganti dengan aroma Sayur lodeh yang sedang dimasak mbak Tus di dapur warung istriku.

Ahhh,... entah mengapa ada yang hilang rasanya. Aku kangen aroma wangi tanah yang terpercik gerimis. Aku kangen gemericik air, yang berkecipak oleh gerakan ikan gabus. Rimbun hijau rumpun ganyong, yang sesekali berbunga merah, kuning putih. Semuanya Punah. Hilang.
Kalupun ada tumbuhan yang ada kini tanaman gelombang cinta. Tanah yang dulu coklat bersih berganti batako tertata rapi. Dan Blumbang dimana kami mancing kini hitam warnanya.

Dimana kini laron-laron yang bagai pasukan perang menderu. Dimana kini ikan sepat yang putih bertotol hitam dengan rumbai sungutnya.
Ahhhhh, satu demi satu mereka pergi.
Ataukah Bumi kian tua. Hingga tak kuasa memberi mereka naungan.
Ataukah Aku yang terlalu serakah, hingga semutpun ku gapai tuk jadi camilan.
................................................................tak ada jawaban.

Rabu, 22 April 2009

Kangen 1

Untuk Hari Bumi yang agak terlambat.

Pagi ini, seperti pagi pagi yang lalu. Masih tetap seperti biasanya. Dengan segala Rutinitas yang seakan terprogram rapih hingga kadang bila satu detil terlewat otak jadi kacau, Hang dan error. Dan berujung dengan sejumput puyer meredakan rasa "agak" sakit di kepala.

Setelah mandi, menyalakan sahabat setiaku pentium 4 yang udah agak ngos-ngosan mengejar target. Istri tercintaku masuk ruangan dengan tentengan plastik hitam kecil. Memang setiap ke pasar pagi hari ia selalu membawa oleh-oleh untukku. Teman Teh Tubruk, pasti. Kalau tidak Onde-onde, mungkin jajan pasar seperti Getuk dan sebangsanya.

Sepeninggal istriku kuseruput wangi melati yang teramu padu dalam hangat panas teh tubrukku. Hmmmmmm, nikmat. Terasa sebuah kehangatan ragawi menjelajah menjalari seluruh pori-pori tubuhku. Dimulai dari kerongkongan, turun kelambung dan terus mennyusuri seluruh rongga tubuhku.

Ternyata tebakan hatiku meleset.Bukan onde-onde, bukan pula getuk. Tapi ' Ganyong ', Kacang, dan Talas rebus. Kacang pasti kita semua kenal dan sering menikmati gurih renyahnya bila di goreng pasir. Atau empuk masirnya bila direbus. Kalau Talas?. Di Bogor banyak. Tapi 'Ganyong '???

Ya Ganyong. Sejenis umbi-umbian yang bentuknya mirip Laos. Bahkan sama persis. Rasanya pulen manis, seperti talas tapi lebih pulen dan berserat.

Entah mengapa, sambil menikmati hidangan eksotis tropis yang dibawa istriku. Tanpa sadar fikiranku terbawa kemasa lalu. Jauh hingga berpuluh tahun kebelakang.

Nampak sebuah rumah dengan dinding anyaman bambu, kami menyebutnya pager. Dengan atap daun sagu atau bulung. Biasa kami bila sore bersama beberapa bocah kecil mancing ikan sepat, menter atau kadang Lele kampung. Dipinggir 'blumbang' atau saluran air yang airnya bening hingga ikan di dalamnya dapat kita lihat yang sesekali berlarian dibawah ranting kayu yang jatuh terendam.

Duduk beralas daun jati disela rumpun pohon ganyong dan perut, apalagi ini. He..he..he...aneh memang. Mungkin yang tepat wortel jawa. Bentuknya hampir mirip tapi ia putih dengan kulit bening. Kami sering memakannya dengan terlebih dulu dibakar, atau direbus.
Senda gurau sambil sesekali menarik mata kail dengan sentakan keras dan ditimpali seruan kegirangan melihat seekor Ikan Bayong atau Gabus menggelepar ditanah coklat.

Oh betapa indahnya, senja menjelang petang bersantap perut dan ganyong berlauk ikan menter dan gabus. Dan yang paling seru ketika sadar muka kita hitang coreng moreng karena tak sadar mengusap keringat dengan tangan yang hitam bekas abu bakaran yang menempel di bakar Ganyong.

Setelah puas saling memperolok dan seing berlanjut dengan saling mencoreng muka kami dengan bekas abu, kami berlarian dan berakhir di kali besar di ujung desa. Setelah abu kini berganti lumpur kali beterbangan disekitar kami. Dan..., JBURRRRRRRRRRR...... bbbrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr,....Segar.

Jauh di ufuk barat. senja kemerahan menyongsong malam.