Sabtu, 29 Agustus 2015

Revolusi Mental 1

Hmmmm..............,
Entah harus mulai dari mana, gamang-ragu. Karena jujur terlalu lama Rumah ini aku tinggalkan.
Namun harus kuluapkan, agar beban otak ini tak semakin berat-penuh hingga pecah terburai isinya.

Revolusi Mental,
Entahlah karena Jokowi yang orang ndeso yang mendengungkannya, dan sayapun wong ndeso.
Atau karena ia dari sebuah Partai, yang dulu ketika kelas 2 SMA-pun saya harus berurusan dengan ruwet dan kerasnya Birokrasi karena menjadi pengurus partai tersebut.
Atau mungkin karena secara tak sadar karena aku bagian Birokrasi kini, hingga ketika seorang Presiden mencetuskan sebuah Ide gagasan maka akupun mendukungnya.

Lepas dari itu semua, jalan hidup aku di Desa ini berawal dari keinginan merubah sebuah keadaan yang jauh dari ideal menjadi paling tidak berkeadilan bagi semua yang mendiaminya. Dalam arti Pemerintah Desa yang bisa melayani dan menempatkan hak serta kewajiban warganya sesuai porsi yang pas.

Itupun tak lepas dari kesalahan masa lalu, yang bertujuan demi perubahan dengan mendorong seseorang justru berakibat lebih buruk bagi desaku. Lebih tepatnya, aku turun ke desa untuk membayar kesalahannku ketika mendorong seseorang memimpin desa ini.

Dengan segala Idealisme yang membumbung tinggi di hati, lalu izin dari istri yang semula agak susah kudapat kutapakkan kakiku untuk sebuah kata. Pengabdian.

Namun pada awal langkahku, langsung menghadang satu kondisi yang membuat diri tercengang. Sebaik-baiknya Calon Kepala Desa adalah yang bisa membagi uang pada pemilih. Artinya Akhlaq, Kemampuan dan Intregritas adalah nomor sekian. Hal pokok adalah Uang.

Di awal walaupun aku menang sesungguhnya aku kalah 1 - 0.

Jumat, 10 Mei 2013

Kangen


3 tahun........

Yup, 3 tahun sudah aku pergi.

Pergi meninggalkan sebuah rumah jiwa.
Rumah dimana dulu segala keluh kesah dapat begitu mudah mengalir,
Rumah dimana dulu segala celoteh diri dapat dengan ringan terucap.

hmmmmmmmmm, 3 tahun.
Begitu banyak cerita terlewat begitu saja.
Tanpa ada satu hurufpun kutoreh di dinding rumah ini.
Tiga tahun yang berlalu hanya dengan senda gurau di rumah lain
tanpa atap, tanpa dinding... tanpa lantai.

hahhhhhh....... kangen rasanya.
Saat hati ini lapang...lepas,
setelah beban hati terungkap habis
lewat coretan batin di rumah ini.

Mungkin sudah saatnya aku kembali,
menata rumah yg tiga tahun ini tak terhuni.

Jumat, 03 Desember 2010

TOLAK PAJAK WARTEG


Setelah tiarap untuk sekian lama.

Bukan karena menghindari abu merapi.

Bahkan bukan pula menyiapkan diri ikut Referendum Yogya.

Tapi semata-mata ingin mengabdikan diri secara penuh, kepada keluarga tercinta.

( Mau bilang ngopeni/Ngemong bayi malu )



Yak…..

Hampir lima bulan ini boro-boro ngeblog, blogwalking atau Update Blog.

Kadang baru megang Keyboard si-Dede udah ,”Owwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….!”.

Sering pula baru nglirik Mouse yang kerlap-kerlip menggoda Teriakan Kencang menggema,” HOEEEEEE !!!”.

( Masa sih bayi 5 bulan udah bisa ngomong gitu ? )

He..he..he..he…. yang ini bukan suara si-dede, tapi suara Emak-nya Nyuruh ganti Pampers si-dede.



Maka Otomatis selama lima bulan ini aku Vakum di dunia Bloging. Entah berapa ribu surat dari fans mengalir tiada henti kayak air Pam. ( Yang ini bohong pasti. Pam kan sering mampet ! )

Dan baru kemarin kesadaran akan Blog yang telah lama kutinggalkan muncul.

Pasti karena berita SBY Sultan ?........ bukan !.

Tentang Sumiati ?..............................itu juga bukan !.

Atau Wikileaks ya ?............................itu juga bukan !.

Lalu apa Dong ???



Sabar….., semua itu karena istriku.

Loh emang Istrinya diriku menjadi berita ya ?

Emang Istrinya diriku Artis ya ? ………………… Bukan, walau secara Jujur wajahnya sih kayak artis.



Ya semua itu karena istriku sepulang dari pasar bilang bahwa Warteg mau dikenai Pajak.

Busyet !!! Udah Gila apa nih Pemerintahnya.

Ditengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini Pemerintah masih dengan Nekatnya mengeluarkan Kebijakan yang mencekik Rakyat.

Belum terlupa di Ingatan kita betapa Gempuran Tekstil dari Luar menggelontor tak terkendali hingga mengakibatkan Kolapsnya dunia perkonfeksian, korbannya rakyat kecil.

Lalu Kebijakan Subsidi BBM dengan segala Polesan Lipstiknya yang ternyata berujung melonjaknya harga bahan pokok, korbanya rakyat kecil.

Dan terakhir isu naiknya tariff listrik yang kembali memaksa harga yang sudah naik kembali naik lagi, korbanya rakyat kecil.

Lah sekarang Warteg dan sejenisnya mau dipungut Pajak, korbanya rakyat kecil.



Lalu kemana itu wakil rakyat ?

Masa kebijakan yang tak pro rakyat koq bisa lolos.

Apa bener kata Mbah Bejo kemarin dulu,” Kursi nek empuk biso gawe moto merem”.

( Kursi Empuk /Jabatan bisa membuat gelap mata/hati ).



Kalau begitu mulai besok Seluruh Pejabat, baik eksekutif , Legislatif dan Yudikatif saya serukan jangan pakai Kursi.

Terus pakai apa ? LESEHAN !!!

Walah malah anteng Turune…………,( Lelap Tidurnya ).

Maka tamatlah Indonesia.

Dan Jayus-jayus kecil tertawa ria.

…..OBYEKANNNN !!!!...... OBYEKANNNNNNNN !!!!!!!

Kamis, 22 Juli 2010

RATAPAN ANAK TIRI NEGERI

Dunia anak,
Ceria.
Penuh tawa.
Betulkah ?, atau ini mimpi.

Bukankah itu juga anak ?,
yang tiap pagi menengadahkan tangan di tiap perempatan penuh asap.
Bukankah ini juga anak ?,
yang masuk televisi bukan karena prestasi besar, tapi perutnya.
Bukankah dia juga anak ?,
yang berkotak kecil menjanjikan syurga dengan imbalan recehnya.
Bukankah mereka juga anak ?,
yang bersimbah peluh menyunggi karung ditengah dingin udara malam Pasar Kramatjati.
Bukankah ia juga anak ?,
yang meregang nyawa dirojok nafsu sang pemerkosa.

Dunia anak...
Penuh Isak.
Rintih lara, ini nyata.

Salah siapa ?
Salah Anjing di Dewan sana,
atau Babi yang bersarang di gedung Pemerintahan,
atau mungkin Tikus gendut di lorong-lorong kebijakan.

Atau bahkan kita....
yang merasa sudah berbuat,
Ternyata Belum.

Selasa, 01 Juni 2010

Hmmmmm........ URINE/DARAH


Judulnya aneh, itu kencing darah. Atau darah dikencingin.
Dua-duanya salah, apalagi kalau berpikiran ini drakula lagi kencing....

Ini tentang keluh kesah seseorang,
Seseorang yang dengan kesadaran teramat-amat tinggi akan kebersihan jakarta,
hingga ketika betapa sibuk kerjaannya, ia masih tetap menyempatkan membersihkan got-got disekitar ia tinggal.

Bukan hanya di depan tempat ia tinggal tapi dari ujung-keujung.
hampir tiap hari, di subuh gelap ketika yang lain masih terlelap.

Yang aneh, tiap orang lewat memanggilnya," BOS ! "
Lah bos kok bersihin got.
Tapi memang, ia seorang usahawan dengan puluhan Kios.
Malah ada beberapa Truk Expedisi segala macam. Tapi ia tetap bersahaja dan peduli dengan lingkungannya.

Tempat ia tinggal ada dilingkungan KUMUH Jakarta barat.
Dimana mayoritas penduduknya adalah pendatang dari segala macam suku dan bangsa.
Ada jawa, sunda, dayak, cina bahkan india. Semua campur aduk.

Tapi kebanyakan adalah cina dengan usaha konfeksinya,
mereka menempati deretan paling terdepan di gang,
dan dibelakangnya baru tempat tinggal para pendatang jawa-sunda berjubelan.

Lah kembali kesi-BOS, kenapa koq tinggal di daerah KUMUH tersebut.
"he..he..he..., ya karena disinilah saya bisa hidup, cari nafkah untuk anak istri".
Ohhhh, ternyata banyak Kiosnya melayani para buruh Konfeksi di rumah-rumah cina tersebut.

Ketika ditanya," Kerja bakti koq sendirian, subuh-subuh lagi ".
Jawabnya enteng," Sempetnya gini hari".
Lalu coba kukejar," Kalau siangan terus hari minggu kan warga lain bisa turun semua".
" Kata siapa ?!".

Sepuluh tahun ceritanya ia tinggal di lingkungan itu, hanya satu dua yang sadar akan kebersihan lingkungan. Yang lainnya merasa sudah cukup dengan membayar iuran RT/RW dan memberi Uang Rokok ketika ada kerja bakti. Padahal intinya bukan itu, sambungnya sambil menyeruput kopi kental kegemarannya, Kopi Luwak.

Lingkungan ini, jakarta ini butuh kebersamaan. Mimik wajahnya sangat serius ketika ia mengatakan ini.
Kebersamaan untuk menatanya, mengaturnya dan membersihkannya.
Kalau semua orang merasa dirinya sibuk, jadi bos dan cukup dengan membayar iuran RT/RW, lalu ketika kerja bakti hanya memberi uang rokok yang ternyata hanya masuk ke kantong pengurus maka tunggu Jakarta Ambruk.

Wahhhh, ngeri juga. Lalu dengan sedikit suara tertahan,
" Kalau sibuk, subuh-subuh mereka sibuk apa sih?. Cukup satu orang didepan rumah bersihkan got masing-masing paling lima menit selesai".
" Tak usah kerja bakti, nanti kalau kerja bakti jawaban mereka paling,.... wahhhh lembur nih gak bisa bantu. Ini uang rokok aja ya".
"Padahal didalam mereka nonton film terbaru di depan layar TV Plasma 40 inchi".

Waduhhh, kok sara nih pak ?
" Loh bukan ke orang dari XXXX saja lho, semua. Gak jawa, gak Sunda, gak China. Tapi khusus yang merasa BOS yang paling saya gak suka !".
" Lahhhh... kitanya nungging-nungging di Got depan rumah dia. Ehhh malah asyik baca koran. Lalu nongol kepalanya doang, lalu ngomong iya nih tiap hari banyak sampahnya. Kadang si-anu tuh buangnya sampah di got ".

" Emang si-Anu suka begitu ya pak ?", tanyaku.
" Mana bisa si-Anu buang bungkus PIZZA HUT, orang makan aja harus ngutang".
Memang kata bapak yang BOS tadi, sering ia menemukan bungkus-bungkus plastik dari Hypermarket terkenal. Yang tak mungkin orang kampung mengaksesnya.

" Lalu menurut Bapak baiknya gimana ?", tanyaku lagi.
" Ya itu. Luangkan waktu 5 menit di pagi hari bersihkan got masing-masing".

" Kalau mereka gak mau pak ??? ".
" Huuuhhhh, sekali-kali saya pingin cium bau darah mereka.
Bosan tiap hari dengan Pesingnya air kencing mereka !".

gambar dari sini

Rabu, 21 April 2010

VIVA MAFIOSO


Anggodo Tepuk dada,
Siapa Lu ?!!!

Kan dah Gue Bilang RI-1 dah Oke.
Mau gonjang-ganjing Negeri ini,
Amannnnnn.......
Duitttt......duiiiitttt

( kayaknya begitu isi hati Anggodo saat ini )

Hmmmmmm.......
Bakal Rumyam Negeri ini.
Berbagai badan penegak keadilan dibentuk,
Rontok juga pada akhirnya.

Kepolisian,.... gampang.
Kejaksaan,...... bisa diatur.
Pengadilan,..... he..he..he... ada koq orang kita.

KPK,.....
gak doyan duit kasih Cewek, apa sih susahnya.

SATGAS MAFIA HUKUM,.....
he...he...he....
Jangan-jangan hanya sebuah upaya Pencitraan kembali.

Jangan bilang sekarang Era Penegakan Hukum
Karena kembali sebuah Drama Lucu Pengadilan Negeri ini naik tayang
ANGGODO MENANG !!!!

Kelanjutannya ???
Tanya pada Pedang yang bergoyang....

Kamis, 25 Februari 2010

Di Test Oleh Malaikat


Judulnya serem,..
Tapi itu kenyataan.
Sebuah Kisah nyata yang sampai sekarang kerap mengganggu Fikiranku.

Siang itu, setelah petentang-petenteng mengamati berbagai Ukuran TV LCD yang di pajang di sebuah Toko di GLODOK.
Lalu basa-basi tanya tentang Spek sebuah TV Plasma 42 Inchi,
Yang anehnya diladeni dengan ramah dan telaten sama yang jaga.
Padahal Jujur penampilan hanya layak untuk TV Tabung itupun 14 Inchi, merk Cina lagi.

Salut tuk Orang yang satu itu, dah ganteng, sopan lagi.
Jadi naksir.... UPSSSS !!! ( jebul.... Gay ya? )
Jangan ngaco.., anakku kan Perempuan semua.
Bisa aja buat calon anakku.
( tapi koq njodohin sama penjaga toko ).
Kata siapa.. wong dia yang punya Toko.

Yuppss, Setelah Puas, Lihat-lihat. Kulangkahkan, yang tepat kuputar roda Motorku ke arah Senen. Tepatnya sebuah Hypermarket Segala Alat dan Keperluan terbesar di Jakarta. Letaknya di timur setasiun Kereta Api Senen.

Emang ada Hypermarket disana ???
Ada... PONCOL SUPERSTORE.
Mau cari apa aja ada. Baju Merk Luar negeri, Sepatu, Alat Musik, Perkakas Rumah tangga, sampai gantungan Kunci, Proyektor dan Pistol...geretan ada semua.
Bahkan cari Bekas Pacar juga ada..., ( yang bener mas ? )
Iya, kebetulan bekas pacar Jualan Baju bekas di sana.
Anak buahnya 15 orang..... Manthabsss.

Maksud hati mau nyari BRAKET LCD ukuran 42, harga baru 750-an.
Kalau di Poncol dengar-dengar hanya 200-an rebu.
( Mas emang TV-nya jadi beli ??? )
Belum, tapi persiapan.
Beli mobil aja bikin Garasi dulu, betul Gak ?

Ternyata...eh ternyata.
Setelah bolak balik gak ada itu barang.
Uhhhh dengan gontai aku jalan ke Parkiran.
Mungkin LCD TV-nya dulu yang dibeli, baru cari breketnya.
Kan Lucu belum beli Motor beli Helmnya.

Pas di parkiran.... Bresssssssss Hujan. ( bunyinya aneh bresss... )
Gak ada salahnya berteduh,.. sambil menyedot Sprite.
Ternyata sesuai iklannya, air langsung membasahi sekujur badan.
Jebul talangnya ambrol.... wk..kk..kk... kirain kayak iklannya.

...dan disitulah terpampang sebuah pemandangan yang membuat aku muak dengan Negeri ini.

Muak dengan Presiden,
Muak dengan Menteri Sosial,
dan Muak dengan Departemen Sosial.


Kerjanya apa sih mereka itu ???.

Sesosok wanita tua, berjalan dengan menyeret pantatnya, ( maaf ).
Beringsut ia dengan ditopang kedua tangan,
kakinya buntung satu.
Tanpa memedulikan hujan yang lebat ia menyebrang jalan, pelan.
Sesekali motor dan Bajaj berhenti mendadak untuk memberinya waktu.
Karena memang jalan Poncol sangat sempit.
lalu ia menepi di emperan kios penjual besi bekas.

Terketuk,
trenyuh.
kurogoh kusiapkan 5 ribuan,
namun dalam batin, aku ambil motorku dulu.
Baru setelah itu memberinya sambil jalan pulang.

Setelah kunaiki Motorku, walau Jok agak basah.
Kuhampiri posisi si-Ibu tadi.
Tapi entah dimana dia.
Secara nalar, dengan cara jalan dan fisik dia yang seperti itu.
Tak mungkin ia dapat pergi secepat itu.

Tempat aku parkir hanya 3 langkah dari ia duduk.
Dan hanya butuh waktu tak lebih puluhan detik ia telah menghilang.
Berdesir.... rasa di kuduk.
Apalagi setelah kutanya si Penjaga Parkir, ia tak melihatnya dari tadi.

Dan lebih terheran-heran setelah kuparkir kembali motorku untuk mencari jawab atas rasa penasaranku, tak ada gang untuk jalan ia pergi.
Dan hanya ada 1 Jawaban,
Ia Malaikat yang mengetesku.
ahhhhh.... kenapa tak langsung aku beri saja uang itu.
Sesal kini yang ada.

hmmmmm....
Mungkin ini gambaran Negeri ini.
Terbayang betapa banyak Bencana yang terlambat tertangani karena terlalu banyak pemikiran, pertimbangan dan perhitungan.

Yahhh... Sudahlah.
Sebuah kotak dari kaca akhirnya sasaran akhirku siang itu.
Semoga Sang Malaikat mau memaafkanku, memaafkan Negeri ini.

Ada kesadaran yang kian tertanam dalam batin,
Walau selama ini memang tak pernah ada kata " MAAF ", untuk setiap Pengemis,
Pengamen dan Peminta Sumbangan.

Karena Jujur, Akupun takut bila ALLAH yang Maha Kuasa berkata MAAF untuk Doaku.

Kini kesadaran baru tertanam lagi untuk tidak mengulur-ulur ketika Niat itu lahir dihati.